Sejarah Batik Bakaran Juwana-Pati

Jika dilihat dari segi warna, motif batik bakaran memiliki ciri khas tersendiri yaitu warna dominan batik bakaran yaitu hitam dan coklat, hal ini menjadikan batik bakaran sebagai batik terbaru. Unsur corak atau motif berdasarkan motif batik sentral dan pesisir. Sekolah Menengah Pertama, karena yang memperkenalkan batik tulis ke wilayah desa Bakaran berasal dari Kerajaan Majapahit.

Dan motif sentra jenis ini ditunjukkan pada motif batik Padas Gempal, Gringsing, Bregat Ireng, Sido Mukti, Sido Rukun, Blebak Kopik, Merak Ngigel, Namtikar, Limanan, Nogo Royo, Gandrung, Rawan, Truntum, Megel Ati, Liris, Blebak Duri Kawung Tanjung, Kopi Pecah, Manggar, Kecer Kedele, Puspo Baskora, ungker Cantel, blebak paru-paru dan masih banyak motif sentral lainnya.

Sedangkan batik tulis pesisir, karena memang jika dilihat geografis letak desa berada di pantai dan aliran pantai ini terlihat pada motif batik huruf, blebak urang dan lekang chan. Secara umum corak batik Bakaran berbeda dengan corak batik kabupaten lainnya, baik dari segi gambar, ragam hias maupun warnanya. Setiap motif umumnya memiliki makna yang sangat filosofis.

Kemampuan membatik bakar di desa Bakaran tidak lepas dari hasil pendidikan Nyi Banoewat, penjaga museum pusaka dan pembuat seragam militer akhir abad ke-14 Kerajaan Majapahit.
Motif batik yang diajarkan oleh Nyi Banoewat adalah motif batik Majapahit, misalnya motif padas gempal, sekar jagat, magel ati dan limaran. Sedangkan motif khusus yang dibuat oleh Nyi Baneowati sendiri adalah motif cinta. Motif tersebut terinspirasi dari pertemuan dengan Joko Pakuwon, kekasihnya, di Tiras Pandelikan.

Saat itu, Joko Pakuwon berhasil menemukan Nyi Banoewat. Kedatangan Joko Pakuwon membuat Nyi Bano Pastor yang sedang membatik bersorak sorai. Jadi, secara kebetulan, tangan Pendeta Nyi Bano menyilangkan kain batik dengan miring berisi lilin, yang saat itu sedang bertunangan dengan batik.

Potongan tersebut membentuk pola strip pendek. Sedangkan Pendeta Nyi Bano menyempurnakan garis tersebut menjadi pola garis silang yang melambangkan kerinduan atau keinginan yang tidak dapat disembuhkan. Motif khusus membutuhkan perlakuan khusus dalam pewarnaan. Pewarna juga harus menggunakan bahan alami. Misalnya kulit batang pohon pewarna yang menghasilkan akar berwarna coklat, kayu kuning dan harus coklat.

Sayangnya, pewarna sudah sulit ditemukan. Saat itu, batik bakar menjadi salah satu komoditas perdagangan antarpulau lewat Pelabuhan Juwana dan menjadi trend fashion para pejabat Kawedanan Juwana. Meski sulit untuk mewarnai bahannya, batik yang dibakar sangat hidup. Saat ini warga Bakaran tidak hanya melestarikan motif Nyi Banoewat saja, tetapi juga mengembangkan berbagai jenis motif kekinian, di antaranya motif pohon druju (juwana), ombak cinta, kedelai, jambu biji, dan udang. Yang kemudian menjadi ciri khas batik bakar adalah motif retak atau remek.

Ada beberapa proses dan teknik untuk menghasilkan batik bakar, mulai dari nggirah, nyimplong, kering, n kursi, nembok, medel, nyolet, mbironi, nyogo dan nglorod. Proses ini dilakukan secara bertahap dari tahap pertama hingga akhir. Setelah selesai, Anda bisa menikmati corak batiknya. Pengrajin melakukan langkah-langkah tersebut secara manual tanpa alat baru seperti prangko, percetakan, sablon, dll.

Sebelumnya para perajin sebelum memulai proses membatik terlebih dahulu melakukan ritual. Beberapa berpuasa selama 3 hari, beberapa selama seminggu, beberapa selama sebulan, dan beberapa selama 40 hari. Setelah melakukan hal tersebut secara cepat, para seniman melakukan penghematan / nyep dengan tujuan untuk mendapatkan inspirasi / inspirasi gambar, sehingga suatu saat atau tiba-tiba mereka tidak menyadari bahwa mereka akan mendapatkan gambaran / bayangan dari pola batik yang akan dibuat. Biasanya alasan tersebut mencerminkan keadaan masyarakat saat ini dan memberikan pesan moral kepada masyarakat. Dan ada juga pertunjukan dengan latar belakang pengrajinnya sendiri. Jadi setiap motif batik memiliki maksud dan tujuan yang diharapkan dari pembatiknya. Atau ada pesan yang terkandung di dalamnya.

Saat ini ada batik bakar yang dipatenkan oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual sebagai motif batik milik pasien. Ada total 17 desain yang dipatenkan. Ke 17 motif tersebut semuanya merupakan motif klasik. Diantaranya motif kopi blebak, tulang rawan, lirik, kopi pecah, truntum, sidomukti, gringsing, sidorukun dan limaran dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *